Tag Archives: Pendudukan Jepang

Seinendojo dan Seinenkurensho

Salah satu organisasi militer bentukan Jepang adalah Seinendojo. Pendidikan militer yang pertama ini diadakan pada akhir tahun 1942. Awalnya Seinendojo adalah organisasi pendidikan bagi para pegawai. Namun seiring dengan kebutuhan angkatan perang Jepang, maka tujuan Seinendojo berubah menjadi organisasi untuk menguji kemampuan militer para pemuda tanpa melupakan aspek intelijen sebagai tujuan tersembunyi organisasi militer ini.  Keterangan mengenai Seinendojo ini diungkapkan oleh Kemal Idris:

 

….Pada akhir tahun empat puluh dua, saya terpilih untuk masuk Seinendojo, eh, katanya itu dimana kita akan diberikan pelajaran-pelajaran yang lebih tinggi, sehingga itu bisa disamakan dengan, kalau keluar sudah lulus dari SMA, ya! Nah ternyata Seinendojo itu adalah suatu tempat latihan kemiliteran yang benar. Itu di Tangerang, di sana kita dilatih dan dipersamakan, kalau itu nanti kita selesai latihan itu sebagai latihan perwira Jepang. Dan ternyata suatu latihan yang sebagai percobaan, apakah bangsa Indonesia terutama pemuda-pemudanya bisa tahan kekerasan latihan militer Jepang. (Kemal Idris, kaset I, 12 Oktober 1986)[1]

 

Lama pendidikan  dalam organisasi militer ini lebih kurang enam bulan, dengan kurikulum sebagai berikut:

1. Pelajaran di dalam kelas:

a.       penanaman semangat melalui cerita mendidik yang berisi semangat.

b.      Pelajaran mengenai keadaan dunia seperti sejarah kekuasaan Belanda di Indonesia.

c.       Pendidikan ketentaraan seperti pengurusan organisasi, sejarah militer, strategi militer, perencanaan perang, pembangunan benteng, perhubungan lalu lintas.

d.      Pendidikan bahasa yaitu bahasa Jepang.

e.       Pendidikan khusus seperti tipu muslihat, propaganda, spionase, dan statistik.

2. Pelatihan fisik

a.   Gerak badan

b.   Sumou

c.   Renang

d.   Seni menggunakan senjata.

3. Kemampuan khusus

Para peserta pelatihan juga dibekali dengan beberapa kemampuan khusus seperti: menembak, pengintaian, strategi berkomunikasi, penyamaran, taktik penghancuran, dan membunuh.

4. Pelajaran di luar kurikulum

Pelajaran di luar kurikulum misalnya, latihan dengan lagu perang, ulasan lagu perang, koordinasi dan komando, dan pengetahuan umum lainnya.

 

Dalam waktu yang hampir bersamaan, dibentuk pula organisasi militer yang disebut seinenkunrensho. Organisasi ini memiliki tingkat pendidikan dengan disiplin yang tinggi. Sistem keanggotaan bersifat sukarela dan terbuka dengan syarat anggota minimal lulusan sekolah rakyat, dan lulus tes fisik. Umumnya, seinenkunrensho dipersiapkan untuk melatih seinendan di daerah-daerah, dengan pelatih mahasiswa Jepang yang kemudian menjadi tentara. Seinenkunrensho ini akhirnya dibubarkan oleh pemerintah Jepang, karena adanya perbedaan pandangan di dalam kalangannya, dan munculnya alternatif pembentukan PETA. Perbedaan pandangan tersebut, seperti yang dipaparkan oleh Rukminto, adalah orang Jepang yang memang memiliki maksud untuk menjajah dan orang Jepang yang ingin membentuk pemuda Indonesia agar memiliki semangat untuk membela tahan airnya.

 

….Bidara Cina dibubarkan, diambil oper oleh pemerintah, jadi ini pelatih-pelatih ini sudah tidak ada, diambil. Oleh karena begini mereka ini memang betul orang Jepang, tetapi orang Jepang itu macam-macam. Ada yang memang maksudnya untuk benar-benar menjajah ada juga yang punya idealisme agar supaya pemuda Indonesia semangat berani untuk membela tanah air seperti kubu [Seinenkuresho] ini. Orang-orang Jepang dia bilang sama saya kalau kamu merasa orang Jepang itu salah, lawan. Dia mengatakan begitu….lawan orang Jepang!….mana mungkin bisa lawan orang Jepang, enggak bisa,….(Rukminto Hendraningrat, kaset I, 30 November 1985)[2]

 

Setelah keberhasilan seinendojo, Jepang membentuk organisasi semi militer lain yang disebut seinendan (Barisan Pemuda) dan keibōdan (Barisan Pembantu Polisi). Keduanya dibentuk pada tanggal 29 April 1943, dengan tujuan mempersiapkan pemuda, baik mental maupun teknis untuk memberikan sumbangan kepada usaha pertahanan Jepang di garis belakang, terutama di tingkat propinsi, desa, di pabrik-pabrik dan perkebunan-perkebunan. Dengan kata lain, kedua organisasi ini menitikberatkan keamanan daerah secara menyeluruh.

[1] Arsip Nasional Republik Indonesia, Di Bawah Pendudukan Jepang: Kenangan Empat Puluh Dua Orang yang Mengalaminya, (Jakarta: ANRI, 1988), hlm. 60

[2] Ibid., hlm. 61